Langsung ke konten utama

Nasi Pecel Bu Ramelan


Pagi ini saya dan nona sarapan nasi pecel di Warung Pecel dan Soto Magetan Bu Ramelan. Warung ini ada di Jalan Laksda Adisucipto di dekan Ambarukmo Plaza (tinggal cek di maps).

Mungkin sebulan lebih kami tidak makan di warung ini. Kami cukup sering dan sudah lama juga makan disini, sejak akhir tahun 2018. Di warung ini pula pertama kali saya mencoba nasi yang disiram dengan bumbu pecel. Karena di padang kebanyakan saya hanya menemui lontong yang disatukan dengan bumbu ini. Meskipun demikian karena saya suka makanan apapun yang ada bumbu kacangnya, jadi nasi pecel cocok dengan lidah saya.

Nasi pecel di warung ini cukup murah, hanya 7k saja. Kalau ingin pakai dadar, tinggal nambah 2k. Selain nasi pecel, disini juga ada soto yang harganya 7k juga. Bagi saya soto di warung ini juga sangat enak, karena rasanya cenderung gurih. Di warung ini juga terdapat beberapa gorengan sebagai tambahan lauk, seharga 1k saja.

Kali ini saya membeli nasi pecel biasa dengan tambahan dua gorengan, bakwan dan tempe mendoan. Rasa pecel di warung ini cenderung pedes, jadi saya sangat menyukainya. Selain itu bagi saya pribadi, rasa nasi pecel di warung ini tidak pernah berubah, masih sama seperti saat pertama kali mencoba. Secara keseluruhan bagi saya nasi pecel di Warung Bu Ramelan sangat enak, dan sangat direkomendasikan bagi yang ingin mencoba sarapan dengan nasi pecel di Jogja.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Talang via Bukik Bulek

Pada tanggal 7 dan 8 Juni 2022 kemarin, saya kembali melakukan salah satu kesukaan yang sudah lama tidak dijajal, yakni naik gunung. Sudah hampir 2 tahun, lebih kurang selama pandemi covid, saya belum pernah nanjak lagi. Setelah beberapa waktu akhirnya bisa nanjak lagi dengan persiapan yang lumayan. Kali ini saya melakukan pendakian di Gunung Talang via jalur Bukik Bulek, ditemani oleh Imam dan Emil. Sebelumnya pada Desember 2019 saya juga pernah melakukan pendakian di gunung ini, tapi lewat jakur berbeda yaitu via air batumbuk. Kami memilih jalur via Bukik Bulek karena sebelumnya Imam pernah lewat jalur ini. Katanya jalur ini waktu pendakiannya lebih singkat daripada jalur via air batumbuk. Meskipun demikian, seperti halnya jalur pendakian lain yang memakan waktu singkat, jalur yang dilalui full nanjak dengan sangat sedikit bonus yang bisa dinikmati. Selain itu untuk mencapai basecamp ini butuh jarak tempuh yg lebih daripada ke air batumbuk jika dari Kota Padang. Perjalana...

@infoinmieayam: Mie Ayam Mas Arya

Nah kalau ini baru fresh walau tak fresh2 amat wokwokwok. Sebenarnya peristiwanya udah terjadi kemarin, tapi karena lupa nama warungnya, dan tadi pas balek kerja ngecek lagi, baru dah bisa ditulis sekarang. Gapapa lah daripada yang kemarin udah berminggu-minggu baru ditulis lagi wokwokwok. Pecah rekor untuk pertama kalinya, kali ini dengan full squad iceland, kembali melanjutkan perburuan mie ayam yang sepertinya sudah menjadi agenda rutin. Awalnya kami ingin mencoba mie ayam yang berada di Purus, namun karena mie ayamnya habis, akhirnya kami memutuskan untuk makan mie ayam di warung Mie Ayam dan Bakso Mas Arya. Warung ini berada di Jl. Taman Siswa, dekat Hotel Ibis dan tak jauh juga dari Warung Mie Ayam Tombo Ati. Kali ini saya mencoba mie ayam pangsit, meskipun pada awalnya ingin memesan mie ayam biasa saja. Dari segi rasa, menurut saya mie ayam di warung ini termasuk mie ayam manis, yang mana jarang ditemui di Padang. Dengan rasanya tersebut, menurut saya mie ayam di war...

@infoinmieayam: Mie Ayam Mas Rudy

Kembali lagi melanjutkan perburuan mie ayam di Kota Padang. Masih bersama Mas Hanif dan Aa Haris, bersama satu personel baru yg ikut dalam perburuan kali ini, Cindy, kami mencoba mie ayam yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah saya, yaitu Mie Ayam Mas Rudy. Warung Mas Rudy terletak di Jl. Sisingamangara, persis di seberang Wisma Kirana 1 (bisa dicek langsung di maps). Nuansa warung Jawa yang sering saya rasakan ketika di Jogja cukup kental ketika pertama kali masuk ke warung ini. Hal ini juga diamini oleh Mas Hanif, yg tumbuh besar di lingkungan Jawa Lampung, suasana di warung ini lumayan mengingatkan akan kampung halaman. Beberapa ornamen khas jawa, seperti dua wayang kulit yang dipajang di salah satu dinding warung ini, ditambah dengan iringan musik Om Sagita, semakin memperkuat kesan tersebut. Yaa lumayan lah bagi saya sendiri untuk mengobati rasa rindu akan tanah rantau. Masuk ke pembahasan mie ayam, menurut saya mie ayam di warung ini sangat mirip dengan mie ayam ya...